Dari Menyalahkan Takdir hingga Menggugat Sistem: Memahami Tiga Tahap Kesadaran Manusia

 Oleh: Dedi Sumardi
Sumber: lpmdidaktika.com

Ketika dihadapkan pada penderitaan; baik itu kemiskinan, ketidakadilan, ataupun kegagalan, manusia secara naluriah akan bertanya, "Mengapa ini terjadi?". Jawaban yang kita berikan atas pertanyaan itu, menurut filsuf dan pendidik radikal asal Brazil, Paulo Freire, bukanlah sekadar jawaban. Ia adalah cerminan dari level kesadaran kita, sebuah cerminan yang menentukan apakah kita akan selamanya menjadi korban keadaan atau bangkit menjadi subjek yang mengubah sejarah.

Freire, dalam analisisnya, memetakan sebuah evolusi kesadaran manusia dalam tiga tahap. Memahami ketiga tahap ini adalah langkah pertama untuk mendiagnosis penyakit masyarakat kita, dan yang lebih penting, penyakit dalam cara berpikir kita sendiri.

Tahap 1: Panggung Para Dewa dan Takdir (Kesadaran Magis)

Ini adalah level kesadaran paling primordial, di mana realitas diterima sebagai sesuatu yang final dan tak terubahkan, seolah-olah diatur oleh kekuatan gaib di luar nalar manusia.

  • Cara Pandang: Seseorang dengan kesadaran magis melihat masalah sosial seperti kemiskinan atau ketidakberdayaan sebagai takdir. Ia adalah nasib, suratan, karma, atau cobaan dari Tuhan. Ia diterima dengan kepasrahan, sama seperti orang menerima datangnya badai atau gempa bumi.
  • Contoh Pola Pikir: "Mengapa keluarga kami miskin turun-temurun? Ya, mungkin memang sudah takdirnya begini. Dijalani saja dengan sabar."
  • Kritik Tajam: Kesadaran magis adalah bius yang paling efektif untuk melanggengkan penindasan. Ia menciptakan masyarakat yang pasif, yang tidak akan pernah mempertanyakan mengapa nasib mereka begitu berbeda dengan nasib para elite. Dengan menyerahkan tanggung jawab pada "takdir", struktur kekuasaan yang tidak adil menjadi aman dan tidak tersentuh. Ini adalah kesadaran yang menyerah sebelum berperang.
Tahap 2: Panggung Para Aktor Individual (Kesadaran Naif)

Pada tahap ini, kesadaran manusia mulai bergeser. Ia tidak lagi menyalahkan takdir, ia mulai menyalahkan manusia. Namun, kesalahannya dilimpahkan pada level individu, bukan pada struktur di baliknya.

  • Cara Pandang: Seseorang dengan kesadaran naif melihat masalah sosial sebagai akibat dari cacat karakter atau kegagalan personal. Kemiskinan disebabkan oleh kemalasan. Korupsi disebabkan oleh pejabat yang "rakus". Ketidakadilan terjadi karena "oknum" polisi yang jahat.
  • Contoh Pola Pikir: "Dia miskin karena tidak mau bekerja keras." atau "Negara kita sebenarnya bagus, hanya saja para politisinya yang kebetulan jahat dan tidak amanah." 
  • Kritik Tajam: Kesadaran naif adalah jebakan yang paling berbahaya. Ia terasa lebih logis daripada kesadaran magis, namun ia mengalihkan perhatian kita dari masalah yang sesungguhnya. Ia membuat kita sibuk memburu dan menghukum "tikus-tikus" di lumbung padi, tanpa pernah bertanya: "Mengapa desain lumbung padi ini penuh dengan lubang yang memungkinkan tikus masuk dan berkembang biak?" Ia fokus pada aktor, dan buta terhadap panggung dan naskah yang memaksa aktor memainkan peran tersebut.

Tahap 3: Membuka Tirai Panggung Sistem (Kesadaran Kritis)

Inilah tahap pencerahan dan tujuan akhir dari pendidikan sejati. Kesadaran kritis adalah kemampuan untuk melihat di balik layar, membuka tirai, dan menganalisis seluruh desain panggung.

  • Cara Pandang: Seseorang dengan kesadaran kritis memahami bahwa masalah sosial yang kompleks jarang sekali disebabkan oleh satu faktor tunggal. Ia mampu melihat bahwa kemiskinan, misalnya, adalah hasil dari jalinan rumit antara sejarah kolonialisme, kebijakan ekonomi yang timpang, sistem pendidikan yang tidak merata, dan hukum yang lebih berpihak pada pemilik modal.
  • Contoh Pola Pikir: "Kemiskinan di wilayah ini bukan hanya karena warganya malas, tetapi karena sejak dulu tidak pernah ada investasi infrastruktur yang memadai, akses terhadap pendidikan tinggi sangat sulit, dan kebijakan agraria lebih menguntungkan korporasi besar. Ini adalah masalah sistemik."
  • Kekuatan Kritis: Kesadaran kritis tidak lagi bertanya "Siapa yang salah?", melainkan "Sistem apa yang salah?". Ini adalah satu-satunya level kesadaran yang mampu melahirkan tindakan perubahan yang sejati (praxis), karena ia menargetkan akar masalah, bukan sekadar gejalanya.

Kerangka pemikiran tentang tiga tahap kesadaran ini dikembangkan oleh Paulo Freire dan dipaparkan secara jelas dalam karyanya yang berjudul "Pendidikan sebagai Praktek Pembebasan" (Education as the Practice of Freedom). Teori ini ia bangun berdasarkan pengalaman lapangannya saat menjalankan program pemberantasan buta huruf di kalangan petani miskin di Brazil pada dekade 1960-an. Ia menemukan bahwa mengajar membaca saja tidak cukup; yang lebih penting adalah mengajar orang untuk "membaca dunia" mereka secara kritis.

Perjalanan dari kesadaran magis menuju kesadaran kritis adalah sebuah evolusi dari seorang penonton pasif yang hanya bisa menerima narasi takdir, menjadi seorang kritikus yang sibuk menyalahkan para aktor di atas panggung, hingga akhirnya menjadi seorang sutradara yang sadar akan seluruh desain panggung dan berani untuk menulis ulang naskahnya.

Di panggung mana posisi kita hari ini? Masihkah kita menyalahkan takdir? Masihkah kita sibuk mencari "oknum" untuk disalahkan? Atau sudah berani kita mulai menggugat sistem? Dirgahayu kemerdekaan berpikir.




Komentar

  1. teori kesadaran pada tahap magis adalah, kesadaran atau pemikiran seseorang yang memiliki kewajiban akan suatu hal tapi gak di kerjakan, contoh seperti sholat 5 waktu, sholat 5 waktu adalah suatu kewajiban yang harus dikerjakan oleh seorang muslim tapi kadang ada orang yang sadar akan kewajiban itu tapi tidak dikerjakan. Sementara tahap naif pada kesadaran yaitu kaya seseorang sadar akan kewajiban itu dia tidak mengerjakan tapi dia pikirkan kenapa gak kaya gini kenapa gak kaya gitu. contohnya seperti seseorang sadar akan kewajiban sholat 5 waktu tapi ia tidak mengerjakan tapi selalu miliki pikiran 'kenapa ya saya bisa gak melakukan kewajiban itu?'. Tahap Kritis adapah kesadaran seseorang akan berbuat sesuatu hal yang dia tau itu kewajibannya untuk dikerjakan dan dia melaksanakan nya dengan baik

    BalasHapus
  2. Menurut saya kita semua berada di panggung para aktor individual (Kesadaran naif) menuju Membuka tirai panggung sistem (Kesadaran kritis) tapi masih belum sampai

    BalasHapus
  3. Hadist Yunatasyah XII AK 1
    Setelah memahami apa yang di sampaikan dari artikel yang sudah di berikan. Dapat kita ketahui bahwa kesadaran adalah salah satu unsur penting dalam melaksanakan hak dan kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia.

    Dilihat dari kondisi Indonesia saat ini, dimana kesadaran rakyat begitu beragam—mulai dari kesadaran dalam menimbulkan pertanyaan, menyalahkan pihak tertentu, sampai menganalisis berbagai alasan dari sudut pandang dan kondisi tertentu.

    Pentingnya untuk mengubah pemikiran rakyat menjadi lebih kritis. Namun, bagaimana caranya? Apakah melulu soal pendidikan yang kurang merata? Atau, sistematis pendidikan itu sendiri yang salah?

    BalasHapus
  4. Dengan memahami ketiga tahap kesadaran tersebut, dapat saya simpulkan bahwa perubahan sejatinya yang ada dalam diri masyarakat harus memerlukan kesadaran kritis dan tindakan yang tepat untuk memahami dan mengubah masyarakat secara efektif.

    BalasHapus
  5. Dari Menyalahkan Takdir hingga Menggugat Sistem” membahas tiga tahap kesadaran manusia menurut Paulo Freire:
    1. Kesadaran Magis masalah dianggap takdir, tidak bisa diubah.
    2. Kesadaran Naif menyalahkan individu (oknum), tanpa melihat struktur.
    3. Kesadaran Kritis menyadari masalah bersumber dari sistem/struktur, lalu berusaha mengubahnya.
    Pesannya: jangan berhenti di “takdir” atau “oknum”, tapi tingkatkan kesadaran kritis agar bisa memperjuangkan perubahan yang lebih adil.

    BalasHapus
  6. dari penjelasan diatas bisa di simpulkan dengan kesadaran kritis, kita dapat menjadi lebih efektif dalam memecahkan masalah sosial dan menciptakan perubahan yang lebih baik

    BalasHapus
  7. Zayn al-hafizh putra. A
    XII AK 1
    Menurut pemahaman saya tentang hal tersebut di mana sebuah kesadaran ini menjadi suatu hal yg harus kita punya dalam kehidupan agar tidak menimbulkan kesalahan terhadap "takdir" yg di sebutkan, di mana kesadaran yg seharusnya memberikan kita tuntunan untuk tetap berada di jalan yg benar dan untuk mencari solusi di kehidupan.

    BalasHapus
  8. Menurut saya, yang di maksud tiga tahap kesadaran manusia itu bisa dipahami seperti ini :

    Kesadaran Magis (menyalahkan takdir)
    Di tahap ini orang masih berpikir bahwa semua penderitaan adalah kehendak Tuhan. Misalnya kemiskinan dianggap “sudah jalannya begitu”. Cara berpikir seperti ini membuat orang pasrah, tidak berusaha, dan akhirnya tidak ada perubahan.

    Kesadaran Naif (menyalahkan individu)
    Di sini orang sudah mulai menyadari bahwa masalah ada hubungannya dengan manusia, bukan sekadar takdir. Tapi sayangnya, yang disalahkan hanya individu tertentu. Misalnya, orang miskin dianggap malas, korupsi dianggap karena pejabat yang rakus. Menurut saya, tahap ini berbahaya karena membuat kita sibuk mencari kambing hitam, tapi lupa melihat “panggung besar” yang sebenarnya.

    Kesadaran Kritis (menggugat sistem)
    Orang dengan kesadaran kritis bisa melihat bahwa masalah sosial lahir dari sistem yang tidak adil. Misalnya kemiskinan bukan hanya karena orang malas, tapi juga karena ada ketimpangan sejarah, kebijakan ekonomi, akses pendidikan, dan hukum yang berpihak pada yang kuat. Dengan kesadaran ini, kita tidak lagi sibuk bertanya “siapa yang salah?”, tapi “sistem apa yang salah?”. Menurut saya, inilah kesadaran yang bisa mendorong perubahan nyata, karena menyentuh akar masalah.

    BalasHapus
  9. manusia selalu dihadapkan pada penderitaan yaitu kemiskinan, ketidakadilan, ataupun kegagalan. maka dari itu Freire dalam analisisnya memetakan kesadaran manusia ada tiga tahap. tahap yang pertama magis, dimana cara pandang pada tahap ini ada suatu kewajiban maupun masalah ia terima dengan pasrah dan menyebutnya dengan "takdir tuhan". mereka tidak mempertanyakan mengapa hal tersebut dapat terjadi, tetapi mereka hanya menerima dengan menyebut semua itu "takdir". tahap kedua dimana kesadaran itu tidak lagi menyalahkan takdir tetapi mulai menyalah kan manusia disini mereka masih mempertanyakan kenapa semua itu dapat terjadi tetapi tidak ada pergerakan yang dilakukan mereka hanya mempertanyakan. tahap ketiga kritis dimana kemampuan akan menganalisis serta membuka tirai dalam kesadaran mereka memahami bahwa semua masalah itu dapat terjadi bukan lagi berpikir tetapi mereka melakukan tindakan perubahan.

    BalasHapus
  10. Nama: Widya Ramadhani
    Kelas: XII AK 1

    kesadaran magis= saya pikir bahwa takdir sudah ditentukan oleh Tuhan, tapi saya juga percaya bahwa saya dapat mempengaruhi takdir saya dengan melakukan sesuatu yang supernatural.

    kesadaran naif= saya pikir bahwa takdir adalah sesuatu yang tidak dapat diubah, jadi saya tidak perlu berusaha untuk mengubahnya.

    kesadaran kritis= saya pikir bahwa takdir tidak hanya tentang apa yang terjadi pada saya, tapi juga tentang bagaimana saya menyikapi dan meresponsinya. Saya dapat memilih untuk menerima takdir dengan positif dan meningkatkan kemampuan saya untuk menghadapi tantangan hidup.

    Komentar saya tentang artikel ini adalah bahwa saya sangat setuju dengan pendapat bahwa menyalahkan takdir dapat menyebabkan stres dan kecemasan. Saya percaya bahwa menerima takdir dengan positif dan memperkuat iman kepada Allah dapat membantu kita untuk lebih fokus pada hal-hal yang dapat kita kontrol.

    BalasHapus
  11. Seseorang dengan kesadaran naif mampu mengenali adanya masalah atau realitas, namun belum bisa menganalisisnya secara mendalam atau mencari solusi yang tepat. Mereka belum mampu mengambil tindakan untuk mengubah kondisi tersebut. Tingkat kesadaran ini merupakan fase di mana seseorang mulai menyalahkan manusia dan tidak menyalahkan takdir Namun, kesalahannya dilimpahkan pada level individu, bukan pada struktur di baliknya

    BalasHapus
  12. teori kesadaran menurut paulo freire yaitu kesadaran manusia menurut paulo freire yaitu sebuah cerminan diri kita untuk menentukan apakah kita masih ingin seperti itu atau kita bangkit untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya ada 3 teori yaitu magis, naif dan kritis
    1. magis yaitu dimana kita sadar akan suatu kewajiban tetapi kita tidak melaksanakan
    2. naif yaitu kita sadar akan suatu kewajiban dan kita memikirkan tetapi kita tidak mengerjakan kewajiban itu
    3. kritis yaitu kita sadar akan kewajiban kita dan kita memikirkan lalu kita melakukan atau mengerjakan nya
    teori ini sudah di praktekkan langsung oleh paulo freire sendiri

    BalasHapus
  13. manusia harus bergerak dari kepasrahan pada takdir (kesadaran magis), melewati kebiasaan menyalahkan individu (kesadaran naif), hingga sampai pada kemampuan melihat akar masalah dalam sistem (kesadaran kritis). Hanya dengan kesadaran kritis, kita dapat melahirkan perubahan nyata

    BalasHapus
  14. menurut kesimpulan saya dari topik tersebut adalah, kemampuan melihat dan memahami masalah sosial seperti kemiskinan sebagai masalah yang kompleks dan tidak adil, dan bukan sekadar masalah individu. Dengan pemahaman seperti ini, kita tidak lagi menyalahkan takdir atau individu tertentu dan, alih-alih berusaha dan mengajukan tuntutan terhadap sistem yang tidak adil untuk mendapatkan perbaikan yang diharapkan.

    BalasHapus
  15. kesadaran magis, kesadaran naif, dan kesadaran kritis. Dalam kesadaran kritis, seseorang tidak lagi menyalahkan individu, tetapi mulai memahami bahwa kemiskinan dan ketidakadilan adalah hasil dari sistem yang timpang seperti warisan kolonialisme, ketimpangan ekonomi, pendidikan yang tidak merata, dan hukum yang berpihak pada pemilik modal. Kesadaran ini mendorong tindakan nyata (praxis) untuk mengubah sistem, bukan hanya mengatasi gejala.

    BalasHapus
  16. Inti dari penjelasan tersebut adalah Kesadaran Magis yaitu Menerima realitas sebagai takdir yang tidak dapat diubah. Kesadaran Naif Menyalahkan individu sebagai penyebab masalah, tanpa melihat struktur yang lebih luas. Kesadaran Kritis Mampu menganalisis masalah secara mendalam, melihat struktur dan sistem yang menyebabkan masalah, dan berani melakukan perubahan.
    Tujuan utama adalah mencapai kesadaran kritis untuk melakukan perubahan yang sejati.

    BalasHapus
  17. Yolanda Ulfi. H XII AK 1 kesadaran magis yaitu mengaitkan peristiwa dngn kekuatan gaib atau kebetulan semata, kesadaran naif memahami masalah tetapi pasif terhadap sistem dan cenderung menyesuaikan diri, sdngkn kesadaran kritis mampu menganalisis akar masalah, merefleksikan lingkungan sosial-politik, dan mengambil tindakan untuk perubahan yang konstruktif

    BalasHapus
  18. Kesadaran manusia terbagi menjadi 3:
    1. Kesadaran magis yaitu realitas diterima sebagai sesuatu yang final dan tak terubahkan.Seperti melihat masalah sosial sebagai takdir
    2. Kesadaran naif yaitu kesadaran manusia yang tidak lagi menyalahkan takdir namun menyalahkan manusia itu sendiri.
    3. Kesadaran kritis yaitu memahami bahwa masalah sosial yang kompleks jarang sekali disebabkan oleh satu faktor tunggal pasti ada berbagai faktor lain.

    BalasHapus
  19. Menurut saya kesadaran Magis: Individu pasrah dan menerima nasib sebagai takdir atau kehendak gaib. Mereka tidak mempertanyakan ketidakadilan yang terjadi.
    kesadaran Naif: Individu mulai melihat masalah, tetapi menyalahkan individu (oknum) atau faktor dangkal lainnya, bukan sistem yang lebih luas. Mereka percaya masalah bisa diselesaikan dengan mengganti oknum.
    kesadaran Kritis: Individu mampu melihat masalah sebagai akibat dari ketidakadilan struktural dan sistemik. Mereka tidak hanya menganalisis, tetapi juga berani bertindak untuk mengubah realitas tersebut.
    Perjalanan dari magis ke kritis adalah proses pembebasan berpikir, dari menyalahkan takdir dan oknum, menjadi berani menggugat sistem.

    BalasHapus
  20. menurut dari pemahaman saya dari ketiga kesadaran tersebut:
    magis, seseorang yg sadar akan sesuatu hal tapi dia tidak dikerjakan ia menyalahkan takdir, naif yaitu pikiran seseorang yang mulai menyalahkan manusia, menyalahkan orang orang disekitarnya, kritis yaitu pencerahan dari pikiran seseorang yang mulai sadar akan kewajiban nya

    BalasHapus
  21. Revalina Az-Zahra XII AK 1 kesadaran magis itu seperti pasrah dengan takdir dan tidak mau berusaha, kita sadar kita punya kewajiban tetapi tidak dikerjakan. Kesadaran naif sama seperti kesadaran magis tetapi ia hanya difikirkan saja, tidak dikerjakan juga. Kesadaran kritis itu kita sudah sadar sepenuhnya akan kewajiban kita dan kita berusaha untuk mengerjakan nya.

    BalasHapus
  22. ALFIRA SUKMAWATI XII AK 1
    Setelah saya membaca artikel tersebut, dapat saya simpulkan pemahaman saya dalam kehidupan sehari hari kita. Dalam tahap 'Magis' kewajiban itu tidak dilaksanakan dan tidak difikirkan. Contoh nya sholat lima waktu, hal tersebut tidak dilaksanakan dan tidak difikirkan juga. Tahap 'Naif' kewajiban itu tetap tidak dilaksanakan tetapi difikirkan. Seperti contoh di magis, sholat itu wajib tetapi tidak dilaksanakan dan tidak difikirkan juga, tetapi dalam tahap naif munculnya pertanyaan dan pemikiran kenapa hal tersebut tidak dilaksanakan. Tahap 'Kritis' kewajiban itu dilaksanakan dan difikirkan. Seperti contoh dalam tahap magis dan naif, setelah munculnya pertanyaan di tahap naif kemudian di tahap kritis pemikiran itu di lakukan atau diterapkan dalam kehidupan nya. Sekian pemahaman yang dapat saya simpulkan, Terimakasih.

    BalasHapus
  23. menurut saya dalam teori ini kita sebagai manusia sebenarnya sadar akan pemikiran, kewajiban atau masalah yang ada di diri kita atau disekitar kita namun, kita masih dalam kesadaran magis yaitu hanya sadar namun tidak memikirkan penyebab apa yang terjadi dalam masalah tersebut. Selanjutnya kesadaran naif yaitu kita sadar lalu kita berpikir kenapa masalah tersebut bisa terjadi tetapi hanya memikirkan saja tidak mencari tahu lebih lanjut kenapa hal itu bisa terjadi, lalu tingkatan selanjutnya kesadaran kritis yaitu sadar dan berfikir apa penyebab masalah itu bisa terjadi secara lebih detail dan menemukan penyebab kenapa masalah itu bisa terjadi

    BalasHapus
  24. Nama : Ahmad Reza Sultoni
    Kelas : XII.AK 1

    Kita sebagai manusia yang Tuhan ciptakan dengan sempurna mungkin seharusnya tidak menyalakan takdir dikarenakan semua kembali kepada diri sendiri yang mau atau tidak nya berusaha. semua sudah tuhan cantumkan di laul Mahfudz, seharusnya kita sebagai manusia harus sabar, Ikhtiar (usaha) dan tawakal berserah kepada Tuhan yang maha esa serta menerima ketentuan yang diberikan meskipun kita sebagai manusia juga sering mengeluh atas takdir yang diterima dan bagaimana cara kita menyikapi hal tersebut dan bagaimana kita menjalankan "takdir" nya, dan semisalnya Takdir nya jauh dari kata yang diinginkan seharusnya kita tidak boleh berhenti berusaha dan patah semangat dalam mewujudkan takdir nya

    BalasHapus
  25. dari artikel yg saya baca ini, menurut saya yg dpt disimpulkan adalah Paulo Freire mengembangkan teori kesadaran yang berfokus pada bagaimana manusia memahami realitas sosial dan bertindak untuk mengubahnya. Menurutnya, kesadaran manusia berkembang melalui tiga tingkatan yaitu magis, naif dan kritis.

    BalasHapus
  26. menurut pemahaman saya, saya berada dalam proses pengubahan dari kesadaran naif menuju kritis, di mana saya mulai mempertanyakan lebih dalam tentang keadaan sekitar dan menyadari pentingnya memahami serta mungkin mengubah sistem dan menggugatnya, bukan hanya berfokus pada kesalahan individu atau faktor eksternal seperti takdir.

    BalasHapus
  27. Setelah membaca kutipan tersebut, saya memahami pemikiran freire yang memetakan evolusi kesadaran manusia menjadi tiga tahap. Tahap pertama yaitu kesadaran magis, ketika seseorang mengetahui akan sesuatu yang harus dilakukan, namun ia tidak berusaha untuk melakukan dan tidak memikirkan solusi akan persoalan tersebut, malah memasrahkan semua itu sebagai takdir. Tahap kedua yaitu kesadaran naif, dalam kesadaran ini seseorang tidak hanya mengetahui lalu tidak melakukan namun ia memikirkan dan mulai menyalakan orang lain. Selanjutnya, tahap ketiga yaitu kesadaran kritis, kesadaran inilah yang di perlukan dalam mengatasi segala persoalan, dimana kesadaran ini memungkinkan seseorang mengetahui lalu melakukan suatu tindakan dan mendapatkan solusi terhadap suatu persoalan tersebut.

    BalasHapus
  28. dapat saya simpulkan ketiga teori ini sangat berkaitan erat dengan kehidupan kita di dunia ini dan kita harus kritis agar bisa melengkapi ketiganya dengan sempurna

    BalasHapus
  29. Menurut pemahaman saya dari Tiga tahap kesadaran manusia tersebut yaitu memahami proses perkembangan kesadaran dan pemikiran kritis manusia. Dari kesadaran magis, kesadaran naif hingga kesadaran kritis, manusia mulai memahami bahwa kehidupan mereka dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berbeda, mulai dari kekuatan supernatural hingga sistem dan struktur sosial. Dengan kesadaran kritis, manusia dapat memahami bahwa perubahan sosial dan politik memerlukan pemahaman yang lebih luas tentang sistem dan struktur yang mempengaruhi kehidupan mereka. Dengan memahami tiga tahap kesadaran manusia, kita dapat memahami kompleksitas kehidupan dan masyarakat, serta meningkatkan kemampuan untuk menciptakan perubahan yang lebih efektif.

    BalasHapus
  30. Menurut saya, warga negara harus punya kesadaran kritis akan kewajibannya sendiri, tanpa harus menyalahkan takdir hingga menggugat sistem.

    BalasHapus
  31. Nama = Rika azahra setiani
    Kelas = XII AK 1

    Menurut saya dari tiga kesadaran di atas yaitu magis adalah suatu kesadaran yang di miliki seseorang tetapi tidak di kerjakan atau melainkan ditinggalkan lalu ia menyalahkan takdir yang tidak bisa di ubah. naif adalah kesadaran yang di miliki oleh seseorang yang sadar akan suatu hal masalah namun tidak di kerjakan melainkan di pikirkan saja dan menyalahkan suatu individu/kelompok. Kritis adalah kesadaran yang dimiliki seseorang, sadar akan suatu hal lalu ia langsung kerjakan atas kewajibannya.

    BalasHapus

Posting Komentar