Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Hierarki Manusia Merdeka: Membedah Lima Pilar Pendidikan Herman Harrell Horne

Oleh: Dedi Sumardi   Sumber Gambar:  https://bintangpusnas.perpusnas.go.id/konten/BK43199/filsafat-pendidikan Dunia pendidikan kita hari ini sering kali terjebak dalam delusi teknokrasi. Kita sibuk membicarakan kurikulum, skor ujian, dan digitalisasi, namun kita lupa pada satu pertanyaan fundamental: Apakah kita sedang mendidik manusia, atau sedang merakit mesin? Dalam mahakaryanya, The Philosophy of Education, Herman Harrell Horne memberikan sebuah "peta jalan" yang sangat kontras dengan pragmatisme dangkal. Bagi Horne, pendidikan bukan sekadar transfer informasi, melainkan proses penyesuaian diri manusia secara sadar terhadap alam, sesama, dan Yang Ilahi. Ia membangun sebuah hierarki organik yang harus dipenuhi secara berurutan. Jika satu fondasi retak, maka seluruh bangunan "Manusia Merdeka" akan runtuh. Aspek Biologis: Pendidikan Adalah Pertahanan Hidup Horne memulai dari bumi. Ia menegaskan bahwa sebelum manusia menjadi makhluk spiritual, ia adalah makhluk biol...

Postingan Terbaru

Jangan Bandingkan Prosesmu dengan Siapapun: Belajar Rasionalitas dari Film Tunggu Aku Sukses Nanti

Oposisi sebagai Prasyarat Demokrasi: Analisis Teoretis terhadap Fungsi Pengawasan dan Ancaman terhadap Sistem Perwakilan di Indonesia Pasca-Pemilu 2024

Konstruksi Epistemologis Ilmu Politik: Analisis Kritis terhadap Relasi Kuasa, Otoritas Negara, dan Legitimasi dalam Dinamika Pemerintahan Modern

Residivisme Politik Elit dan Bayang-Bayang Neo-Sentralisme: Analisis Komparatif Wacana Pilkada lewat DPRD dengan Pola Kekuasaan Orde Baru

Integrasi Filantropi Industri dan Pedagogi Modern: Analisis Komparatif Etos Kerja R&D PT Mandom Indonesia terhadap Rekonstruksi Karakter Siswa

Intensifikasi Pajak Negara dan Kemiskinan Struktural: Analisis Kritis terhadap Disparitas Kebijakan Fiskal dan Kesejahteraan Sosial di Indonesia

"Ikhlas dan Mengabdi": Mengapa Guru Indonesia Dijebak dalam Romantisasi Pengorbanan?

Mitos Sisyphus Modern: Mengapa Kita Terus Mendorong Batu (Mengejar Sukses) tapi Tetap Merasa Kosong?