May Day: Bukan Sekadar Tanggal Merah, Tapi "Alarm" Bagi Mesin Kapitalisme yang Kian Rakus
Oleh: Dedi Sumardi Sumber Gambar: www.detik.com TANGERANG - Setiap tanggal 1 Mei, jalanan protokol biasanya dipenuhi warna-warni bendera serikat buruh. Bagi sebagian orang, ini mungkin dianggap "gangguan lalu lintas" atau sekadar hari libur tambahan. Namun, jika kita mengupas lapisan sejarah dan ekonominya, May Day adalah potret perlawanan manusia agar tidak didegradasi menjadi sekadar "baut" dalam mesin industri. Darah di Balik Hak "Pulang Jam 5 Sore" Kita sering lupa bahwa hak untuk pulang kerja tepat waktu dan menikmati akhir pekan bukanlah hadiah dari kemurahan hati perusahaan. Itu adalah hasil "tukar nyawa" di Chicago tahun 1886. Tragedi Haymarket menjadi saksi bagaimana tuntutan "8 Jam Kerja" dijawab dengan peluru dan tiang gantungan. Sejarawan Philip S. Foner mencatat bahwa peristiwa ini adalah titik balik global. Sebelum ada aturan ini, manusia bekerja layaknya mesin: 14 hingga 16 jam sehari hingga fisik mereka rontok. 1 Mei ...



.jpg)



