Mitos Sisyphus Modern: Mengapa Kita Terus Mendorong Batu (Mengejar Sukses) tapi Tetap Merasa Kosong?

Oleh: Dedi Sumardi

Sumber Foto: https://www.linkedin.com/pulse/curse-sisyphus-rashmi-kumari

Pernahkah Anda mengalami momen ini? Anda bekerja keras selama berbulan-bulan untuk sebuah tujuan: lulus ujian, naik jabatan, membeli mobil baru, atau mencapai target tabungan. Anda berpikir, "Nanti, kalau aku sudah sampai di sana, aku akan bahagia selamanya."

Lalu hari itu tiba. Anda berhasil. Anda berdiri di puncak. Anda merasa gembira... selama sekitar dua jam, mungkin dua hari.

Setelah itu? Kehidupan kembali normal. Euforia menguap. Dan tiba-tiba, ada rasa hampa yang aneh di dada. Sebuah pertanyaan sunyi muncul: "Cuma begini rasanya? Terus sekarang apa?"

Lalu, Anda melihat puncak gunung lain yang lebih tinggi. Anda kembali memikul beban, mulai mendaki lagi, berharap puncak berikutnya akan memberikan kepuasan yang abadi.

Selamat datang di Kutukan Sisyphus Modern. Tanpa sadar, kita semua sedang menjalani hukuman para dewa, namun kita mengemasnya dengan nama yang cantik: "Kesuksesan" dan "Karir".

Siapakah Sisyphus? (Cermin Diri Kita)

Dalam mitologi Yunani, Sisyphus adalah seorang raja licik yang dihukum oleh Zeus karena menipu kematian. Hukumannya brutal namun sederhana:

Ia harus mendorong sebuah batu besar ke atas gunung. Namun, setiap kali batu itu hampir mencapai puncak, batu itu akan menggelinding kembali ke bawah. Sisyphus harus turun, dan mendorongnya lagi. Begitu terus, berulang-ulang, untuk selama-lamanya.

Hukuman ini mengerikan bukan karena beratnya batu, melainkan karena kesia-siaannya. Tidak ada hasil. Tidak ada penyelesaian. Sekarang, lihatlah rutinitas kita: Bangun pagi → Macet-macetan → Kerja 8 jam → Pulang → Tidur. Ulangi besok. Ulangi lusa. Ulangi sampai pensiun. Kita mendorong "batu" (tugas, target, cicilan) setiap hari. Apakah batu itu pernah benar-benar sampai di puncak? Tidak. Selalu ada batu baru esok hari.

Psikologi: Jebakan "Hedonic Treadmill"

Mengapa kita merasa kosong meski sudah "sukses"? Psikologi modern punya jawabannya: Hedonic Treadmill.

Konsep ini menjelaskan bahwa manusia memiliki baseline (titik dasar) kebahagiaan yang tetap.

  • Saat hal buruk terjadi, kita sedih, tapi lama-lama kita beradaptasi dan kembali ke titik dasar.
  • Saat hal baik terjadi (naik gaji, menikah), kita senang, tapi kita juga beradaptasi dan kembali ke titik dasar.

Inilah mengapa "mengejar sukses" untuk mencari kebahagiaan itu seperti berlari di atas treadmill. Kita berlari kencang (bekerja keras), berkeringat, dan merasa maju. Tapi secara emosional, kita tetap di tempat yang sama. Rasa kosong itu muncul karena kita mengharapkan kebahagiaan permanen dari sesuatu yang sifatnya sementara.

Filsafat: Albert Camus dan "Absurditas"

Filsuf Prancis, Albert Camus, dalam esai legendarisnya The Myth of Sisyphus (Le Mythe de Sisyphe), menggunakan cerita ini untuk menjelaskan kondisi manusia.

Camus berkata bahwa hidup ini Absurd.

  • Manusia memiliki kerinduan mendalam akan makna, kejelasan, dan tujuan.
  • Namun, alam semesta memberikan keheningan yang dingin.Alam semesta tidak peduli pada kita dan tidak memberikan jawaban.

Bentrokan antara "keinginan kita akan makna" dan "dunia yang tak bermakna" inilah yang disebut Absurditas. Rasa kosong yang Anda rasakan adalah momen ketika Anda sadar akan absurditas ini. Anda sadar bahwa batu yang Anda dorong sebenarnya tidak memiliki tujuan akhir yang ilahi. Itu cuma batu.

Lalu, apakah kita harus putus asa? Apakah kita harus berhenti mendorong?

Solusi: Kita Harus Membayangkan Sisyphus Bahagia

Di sinilah Camus memberikan plot twist yang brilian dan kritis. Banyak orang berpikir Sisyphus menderita. Tapi Camus berkata: "Kita harus membayangkan Sisyphus bahagia." (One must imagine Sisyphus happy).

Bagaimana mungkin orang yang dihukum selamanya bisa bahagia?

Sisyphus menjadi bahagia saat ia menerima batunya. Ia berhenti berharap batu itu akan diam di puncak. Ia berhenti berharap hukuman itu berakhir. Sebaliknya, ia menemukan makna di dalam perjuangan itu sendiri.

  • Kebahagiaan bukan ada di puncak gunung (hasil akhir).
  • Kebahagiaan ada di dalam keringat saat mendorong, di dalam langkah kaki menuruni bukit, di dalam keberanian untuk terus mencoba meski tahu hasilnya sia-sia.

Kritik untuk Kita: Kita merasa kosong karena kita selalu hidup untuk "Nanti".

  • "Saya akan bahagia nanti kalau sudah jadi Manajer."
  • "Saya akan tenang nanti kalau rumah lunas."

Kita mengabaikan proses mendorong batu hari ini demi sebuah puncak imajiner di masa depan. Camus mengajarkan kita untuk menjadi pemberontak. Cara memberontak terhadap hidup yang absurd dan hampa ini adalah dengan menjalani hidup sepenuhnya, saat ini juga. 

Cintailah prosesnya. Cintailah keringatnya. Cintailah "batu" Anda bukan karena batu itu akan membawa Anda ke surga, tapi karena batu itu adalah milik Anda, dan Anda masih hidup untuk mendorongnya.

Kesimpulan: Berhentilah Menunggu Puncak

Kekosongan itu hadir bukan karena Anda kurang sukses. Kekosongan itu hadir karena Anda meletakkan makna hidup Anda pada hasil, bukan pada tindakan.

Berhentilah menjadi Sisyphus yang menderita, yang mendorong batu sambil mengutuk nasib dan berharap cepat sampai puncak. Jadilah Sisyphus yang sadar.

Batu itu akan menggelinding turun lagi. Cicilan akan datang lagi. Masalah kerjaan akan muncul lagi. Itu tak terhindarkan. Tapi di sela-sela dorongan itu, di dalam perjuangan sehari-hari itu, di situlah letak kehidupan yang sebenarnya.

Perjuangan itu sendiri sudah cukup untuk mengisi hati manusia.

Referensi:

  1. Camus, Albert. (1942). The Myth of Sisyphus (Le Mythe de Sisyphe). 
  2. Brickman, P., & Campbell, D. T. (1971). Hedonic Relativism and Planning the Good Society.
  3. Kaufmann, Walter. (1956). Existentialism from Dostoevsky to Sartre.
  4. Han, Byung-Chul. (2015). The Burnout Society.

Komentar