Pemberontak atau Pejuang Tani? Membedah Alasan Mengapa Komunisme Begitu Populer (dan Ditakuti) di Indonesia
Oleh: Dedi Sumardi
![]() |
| Sumber: indonesiana.id |
Dalam buku sejarah resmi, komunisme di Indonesia seringkali digambarkan dalam satu kata: pemberontak. Narasi ini, terutama setelah tragedi 1965, begitu kuat hingga menutupi pertanyaan yang lebih fundamental: Mengapa sebuah ideologi yang berasal dari Eropa bisa begitu mengakar di kalangan petani dan buruh di Nusantara? Mengapa Partai Komunis Indonesia (PKI) pernah menjadi salah satu partai komunis terbesar di dunia?
Untuk menjawabnya, kita harus berani membedah sejarah dari dua sisi. Kita perlu melihat komunisme bukan hanya sebagai ideologi yang gagal, tetapi juga sebagai respons logis terhadap kondisi penindasan yang nyata. Mari kita selami mengapa PKI bisa dicintai sebagai "pejuang tani" sekaligus dibenci sebagai "pemberontak," melalui tiga babak tragedi pemberontakannya.
Sebelum kemerdekaan, rakyat jelata Indonesia hidup di bawah dua lapis penindasan: Kapitalisme Kolonial Belanda yang eksploitatif dan Feodalisme Lokal yang menjadi kaki tangannya. Para priyayi dan tuan tanah mengontrol tanah dan tenaga kerja, sementara Belanda mengeruk keuntungannya.
Dalam kondisi inilah, seorang sosialis Belanda, Henk Sneevliet, mendirikan ISDV pada 1914. Gagasannya yang radikal menarik para aktivis pribumi brilian seperti Semaun dan Darsono. Mereka berhasil menyebarkan ide-ide Marxis di dalam Sarekat Islam (SI), sebelum akhirnya memisahkan diri dan mendeklarasikan berdirinya Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 23 Mei 1920. Sejak awal, DNA partai ini adalah perlawanan terhadap penindasan ganda tersebut.
Tragedi Pertama: Pemberontakan 1926 dan Mimpi yang Dibuang ke Digoel
Pada pertengahan 1920-an, agitasi PKI di kalangan buruh dan petani mencapai puncaknya. Di bawah kepemimpinan tokoh-tokoh seperti Aliarcham dan Sardjono (setelah Semaun berada di pengasingan), PKI memutuskan bahwa waktunya telah tiba untuk sebuah revolusi.
Alasan Pemberontakan
- Ideologi vs. Realitas: Bagi para petani dan buruh, ide komunis tentang kepemilikan bersama adalah jawaban langsung atas penderitaan mereka. Mereka tidak lagi mau menjadi budak di tanah yang mereka garap atau di pabrik tempat mereka bekerja.
- Kegagalan Jalur Damai: Serangkaian pemogokan buruh besar-besaran yang dipimpin PKI pada tahun 1925 berhasil dipatahkan dengan keras oleh pemerintah kolonial. Ini meyakinkan banyak anggota bahwa perlawanan bersenjata adalah satu-satunya jalan yang tersisa.
Pada November 1926, pemberontakan meletus di Banten, Batavia, dan menyebar ke Jawa Tengah serta Sumatera Barat. Namun, karena kurangnya koordinasi dan persenjataan, perlawanan ini dengan cepat dan brutal ditumpas oleh militer Belanda. Akibatnya sangat menghancurkan: ribuan orang terbunuh, 13.000 ditangkap, dan sekitar 1.300 aktivisnya, termasuk para pemimpin utama, dibuang ke kamp konsentrasi Boven Digoel, Papua. Tragedi ini melumpuhkan PKI selama hampir dua dekade.
PKI baru bisa bangkit kembali setelah Proklamasi Kemerdekaan. Namun, di tengah perjuangan revolusi fisik melawan Belanda, terjadi perpecahan internal yang mendalam di tubuh Republik.
Pada Agustus 1948, Musso, seorang tokoh veteran PKI yang lama di pengasingan Moskow, kembali ke Indonesia. Ia membawa sebuah garis politik baru yang lebih radikal dan pro-Uni Soviet, yang dikenal sebagai "Jalan Baru untuk Republik Indonesia." Ia mengkritik para pemimpin Republik, termasuk Sukarno-Hatta, yang dianggapnya terlalu lembek dan kompromistis terhadap Belanda.
Alasan Pemberontakan (Peristiwa Madiun)
- Rasionalisasi Militer: Pemerintah Hatta menerapkan program Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) angkatan perang. Kebijakan ini akan mendemobilisasi banyak laskar rakyat dan tentara yang pro-kiri, yang dianggap akan melemahkan basis kekuatan PKI.
- Provokasi dan Ketegangan: Saling culik dan bunuh antara kelompok pro-pemerintah dan pro-komunis di Surakarta (Solo) menciptakan situasi yang sangat tegang dan penuh kekerasan, yang akhirnya menjalar ke Madiun.
Pada 18 September 1948, para perwira dan aktivis kiri di Madiun memproklamasikan berdirinya "Soviet Republik Indonesia" sebagai tandingan terhadap pemerintah pusat. Pemerintah Hatta merespons dengan sangat tegas. Sukarno berpidato di radio, "Pilih Musso dengan PKI-nya atau pilih Sukarno-Hatta?"
Pemerintah mengirim Divisi Siliwangi untuk menumpas pemberontakan. Dalam waktu singkat, Madiun berhasil direbut. Musso tewas dalam pertempuran, dan ribuan kader PKI, termasuk tokoh penting seperti Amir Sjarifuddin, dieksekusi. Peristiwa ini melahirkan stigma yang akan terus menghantui PKI: cap sebagai "pengkhianat bangsa" yang menusuk Republik dari belakang saat sedang berjuang melawan Belanda.
Babak Ketiga: Kebangkitan, Popularitas, dan Tragedi Puncak 1965
Secara luar biasa, PKI mampu bangkit sekali lagi dari kehancuran. Di bawah kepemimpinan D.N. Aidit yang karismatik, PKI dibangun ulang menjadi partai modern yang menghindari citra pemberontak. Mereka menempuh jalur parlemen, mendukung Presiden Sukarno, dan fokus pada isu-isu kerakyatan.
Strategi ini sangat berhasil. PKI menjadi partai pemenang keempat pada Pemilu 1955 dan tumbuh menjadi partai komunis terbesar di luar Tiongkok dan Uni Soviet. Popularitas mereka kembali meroket karena konsistensi mereka memperjuangkan reforma agraria.
Namun, perjuangan ini kembali memicu konflik. "Aksi sepihak" yang dilakukan para petani pendukung PKI untuk merebut tanah dari para tuan tanah (yang banyak di antaranya adalah kiai dan haji) menciptakan bentrokan horizontal yang brutal di desa-desa.
Puncak dari segala ketegangan ini adalah Gerakan 30 September (G30S) 1965, yang menjadi dalih bagi Mayor Jenderal Soeharto untuk menghancurkan PKI secara total. Peristiwa ini diikuti oleh pembantaian massal 1965-1966, sebuah tragedi kemanusiaan yang menjadi babak akhir dari sejarah komunisme sebagai kekuatan politik di Indonesia.
Sejarah tiga babak pemberontakan PKI menunjukkan sebuah pola yang kompleks. Di satu sisi, perlawanan mereka adalah representasi otentik dari kemarahan kaum tani dan buruh terhadap penindasan yang nyata. Dari sudut pandang ini, mereka adalah pejuang.
Namun di sisi lain, metode radikal, pemberontakan bersenjata, dan manuver politik mereka pada saat-saat kritis dalam sejarah bangsa membuat mereka dicap sebagai pemberontak oleh negara dan lawan-lawan politiknya. Sejarah komunisme di Indonesia adalah cermin bagi kita semua: sebuah pengingat bahwa di balik setiap pemberontakan besar, selalu ada akar ketidakadilan sosial yang nyata dan mendalam.
- McVey, Ruth T. (2006). The Rise of Indonesian Communism. Equinox Publishing. Karya klasik dan paling fundamental untuk memahami kelahiran PKI, tokoh-tokohnya (Semaun, Darsono, dll.), hingga pemberontakan 1926.
- Ricklefs, M.C. (2008). A History of Modern Indonesia since c.1200. Palgrave Macmillan. Memberikan gambaran umum yang komprehensif, termasuk analisis yang berimbang mengenai Peristiwa Madiun 1948.
- Hindley, Donald. (1966). The Communist Party of Indonesia, 1951-1963. University of California Press. Menganalisis secara detail kebangkitan PKI di bawah kepemimpinan D.N. Aidit setelah Peristiwa Madiun.
- Roosa, John. (2006). Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto's Coup d'État in Indonesia. University of Wisconsin Press. Secara kritis membongkar narasi resmi Orde Baru tentang G30S dan menawarkan analisis mendalam tentang peristiwa puncak tragedi PKI.

.jpg)

Komentar
Posting Komentar