Melampaui 'Pendidikan Gaya Bank': Menyalakan Kembali 'Curiosity' sebagai Alat Pembebasan
Oleh: Dedi Sumardi
![]() |
| Sumber gambar: https://lapmikomfebi.wordpress.com/ |
Ada sebuah pemandangan yang terlalu lumrah di ruang-ruang kelas kita: Guru berbicara, murid mencatat. Guru memberi soal, murid mengisi jawaban. Seluruh proses terasa seperti sebuah transaksi mekanis, sebuah transfer informasi dari satu wadah penuh ke banyak wadah kosong.
Filsuf dan pendidik legendaris asal Brazil, Paulo Freire, memiliki nama untuk ini: "Pendidikan Gaya Bank" (Banking Education).
Namun, ada satu kekuatan alami manusia yang, jika dinyalakan kembali, mampu membongkar seluruh sistem ini dari dalam. Kekuatan itu adalah rasa ingin tahu (curiosity). Tulisan ini akan membedah bagaimana "Pendidikan Gaya Bank" bekerja dan mengapa curiosity adalah senjata pembebasan yang kita butuhkan.
Bagian 1: Membedah Mesin Penindas Bernama "Pendidikan Gaya Bank"
Dalam mahakaryanya, "Pendidikan Kaum Tertindas" (Pedagogy of the Oppressed), Freire menguraikan konsep ini dengan tajam.
"Pendidikan Gaya Bank" adalah sebuah metafora di mana:
- Guru adalah Penyetor (Subjek). Ia memiliki semua pengetahuan, semua kebenaran, semua otoritas.
- Siswa adalah Celengan Kosong (Objek). Ia dianggap tidak tahu apa-apa. Tugasnya adalah menerima, menyimpan, dan menghafal "setoran" informasi dari guru tanpa pertanyaan.
Dalam sistem ini, kata Freire, "semakin pasif siswa, semakin baik." Tujuannya bukanlah untuk membuat siswa memahami dunia, melainkan untuk membuat siswa menyesuaikan diri dengan dunia sebagaimana adanya dunia yang telah diatur oleh kaum penindas.
Gejala-gejala "Pendidikan Gaya Bank" di Kelas:
- Fokus mutlak pada hafalan dan pengulangan fakta.
- Guru adalah satu-satunya sumber kebenaran; buku paket adalah kitab sucinya.
- Ujian hanya mengukur kemampuan siswa untuk memuntahkan kembali informasi yang telah "disetorkan".
- Pertanyaan kritis dari siswa dianggap sebagai "gangguan," "pembangkangan," atau "di luar topik."
- Siswa menjadi terasing dari realitasnya sendiri, karena pengetahuan yang diajarkan terasa jauh dan tidak relevan dengan kehidupannya.
Tujuan akhir dari sistem ini adalah menciptakan manusia robot: warga negara yang patuh, tidak kritis, dan mudah dikendalikan, yang akan menerima tatanan sosial yang tidak adil sebagai sesuatu yang "alami" atau "sudah seharusnya."
Bagian 2: Anatomi 'Curiosity' sebagai Kekuatan Revolusioner
Jika "Pendidikan Gaya Bank" membutuhkan kepasifan, maka curiosity adalah antitesisnya. Rasa ingin tahu bukanlah sekadar "penasaran" biasa. Ia adalah dorongan ontologis yakni dorongan mendasar dari keberadaan manusia untuk membongkar realitas. Ia adalah mesin penggerak intelektual yang beroperasi dengan satu pertanyaan sederhana namun sangat berbahaya: "Mengapa?"
- Curiosity menolak untuk menjadi celengan pasif.
- Ia tidak mau hanya menerima informasi; ia ingin menginterogasinya.
- Ia tidak puas dengan "apa"; ia menuntut untuk tahu "mengapa" dan "bagaimana jika tidak".
Dalam "Pendidikan Gaya Bank", siswa diajarkan bahwa 2+2=4. Titik. Seorang siswa yang curious akan bertanya: "Mengapa 2+2=4? Siapa yang memutuskan ini? Apakah ini berlaku di semua sistem? Apa yang terjadi jika saya mendefinisikan '2' secara berbeda?"
Bagian 3: 'Curiosity' sebagai Alat Pembebasan
Di sinilah letak kekuatan revolusioner dari curiosity. Ia adalah senjata yang membebaskan kita dari penjara "Pendidikan Gaya Bank."
Bagaimana caranya?
- Mengubah Siswa dari Objek menjadi Subjek: Saat seorang siswa mulai bertanya "mengapa?", ia berhenti menjadi "objek" yang pasif. Ia telah menjadi "subjek"—seorang pemikir aktif yang terlibat dalam proses belajarnya sendiri. Ia tidak lagi "dididik," ia "mendidik dirinya sendiri."
- Melahirkan Kesadaran Kritis (Conscientização): Ini adalah istilah kunci Freire. Curiosity yang terus-menerus dilatih akan menuntun siswa untuk mempertanyakan tidak hanya rumus matematika, tetapi juga realitas sosialnya. "Mengapa beberapa orang kaya dan banyak yang miskin?", "Mengapa aturan ini hanya berlaku untuk kami?", "Siapa yang diuntungkan oleh sistem ini?". Pertanyaan-pertanyaan inilah yang melahirkan kesadaran kritis—pintu gerbang menuju pembebasan.
- Mengganti "Setoran" dengan "Dialog": Solusi Freire untuk "Pendidikan Gaya Bank" adalah "Pendidikan Hadap Masalah" (Problem-Posing Education). Dalam model ini, guru dan siswa adalah rekan dialog yang setara. Keduanya sama-sama curious terhadap sebuah masalah nyata di dunia. Tidak ada lagi "penyetor" dan "celengan"; yang ada hanyalah dua manusia yang belajar bersama.
Kesimpulan: Menyalakan Kembali Api
Kita telah terlalu lama membiarkan sistem pendidikan kita beroperasi seperti bank, mematikan api curiosity demi ketertiban dan kepatuhan semu. Kita telah menciptakan generasi yang mungkin terisi penuh dengan fakta, tetapi kosong dari gairah bertanya.
Melampaui "Pendidikan Gaya Bank" bukanlah sekadar mengganti metode mengajar. Ini adalah sebuah tindakan politik. Ini adalah keputusan sadar untuk beralih dari pendidikan yang mengontrol ke pendidikan yang membebaskan. Dan pembebasan itu dimulai dari hal terkecil: menghargai, merawat, dan menyalakan kembali setiap pertanyaan "mengapa" yang muncul dari seorang manusia.
Referensi untuk Pendalaman
- Freire, Paulo. (1970). Pendidikan Kaum Tertindas (Pedagogy of the Oppressed).
- Dewantara, Ki Hadjar. Karya Ki Hadjar Dewantara: Bagian Pertama, Pendidikan.
- hooks, bell. (1994). Teaching to Transgress: Education as the Practice of Freedom.
- Leslie, Ian. (2014). Curious: The Desire to Know and Why Your Future Depends On It.

.jpg)

Komentar
Posting Komentar