Ontologi Siswa: Apakah Manusia Terlahir sebagai "Kertas Kosong" atau Pembawa Potensi?

Oleh: Dedi Sumardi 

Sumber Foto: Lestari.Kompas.com

Pernahkah Anda berhenti sejenak di tengah riuhnya ruang kelas dan bertanya: Siapakah sebenarnya makhluk yang duduk di hadapan para guru ini? Apakah seorang siswa adalah sebuah wadah kosong yang harus kita isi dengan pengetahuan? Ataukah ia adalah sebuah benih yang sudah membawa seluruh potensi kehebatannya, dan tugas kita hanya menyiraminya?

Ini bukan sekadar pertanyaan akademis. Ini adalah pertanyaan ontologis (Hakikat),pertanyaan tentang hakikat keberadaan yang secara fundamental membentuk seluruh arsitektur pendidikan kita. Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan cara kita merancang kurikulum, cara guru mengajar, dan cara kita memandang keberhasilan atau kegagalan seorang murid.

Mari kita bedah dua jawaban paling berpengaruh dalam sejarah filsafat: pandangan bahwa manusia adalah "kertas kosong" melawan pandangan bahwa manusia adalah "pembawa potensi."

Teori 1: Manusia adalah Tabula Rasa (Kertas Kosong)
John Locke

Filsuf Inggris abad ke-17, John Locke, adalah salah satu pemikir paling berpengaruh yang menolak gagasan tentang pengetahuan bawaan. Dalam karyanya yang monumental, "An Essay Concerning Human Understanding" (1689), ia memperkenalkan konsep Tabula Rasa.

Menurut Locke, pikiran manusia saat lahir itu seperti selembar kertas putih kosong, tanpa tulisan, tanpa ide, dan tanpa pengetahuan apa pun. Semua yang kita ketahui—dari konsep warna "biru" hingga gagasan moral tentang "kebaikan"—sepenuhnya berasal dari pengalaman indrawi (sensation) dan refleksi (reflection) atas pengalaman tersebut.

Implikasinya dalam Pendidikan:

Jika siswa adalah kertas kosong, maka pendidikan menjadi proses "menulis" atau "mengisi" kertas tersebut.

  • Peran Guru: Guru adalah sang penulis utama. Ia adalah sumber pengetahuan yang mentransfer informasi dan membentuk karakter siswa dari luar.
  • Peran Siswa: Siswa adalah penerima yang pasif. Tugasnya adalah menyerap sebanyak mungkin informasi yang diberikan oleh guru dan lingkungan.
  • Fokus Kurikulum: Penekanannya adalah pada transmisi pengetahuan, fakta, dan nilai-nilai yang dianggap penting oleh masyarakat dari generasi ke generasi.

Pandangan ini sangat optimis tentang kekuatan pendidikan untuk membentuk manusia. Namun, ia juga berbahaya. Jika siswa dianggap kosong, maka ada risiko pendidikan menjadi indoktrinasi. Guru dan sistem bisa menjadi otoriter, memaksakan "tulisan" mereka tanpa menghargai keunikan atau kecenderungan alami sang anak. Ini adalah akar dari "pendidikan gaya bank" yang dikritik oleh Paulo Freire, di mana siswa hanya menjadi wadah pasif.

Teori 2: Manusia adalah Pembawa Potensi Bawaan
Plato dan Jean-Jacques Rousseau

Pandangan ini jauh lebih tua dan memiliki banyak variasi, namun intinya sama: manusia tidak terlahir kosong. Ia datang ke dunia dengan seperangkat potensi, bakat, atau bahkan pengetahuan laten.

Plato dan Teori Anamnesis (Mengingat Kembali):

Dalam dialognya "Meno," Plato berargumen bahwa jiwa manusia itu abadi dan telah mengetahui semua kebenaran universal sebelum dilahirkan ke dunia. Belajar, bagi Plato, bukanlah proses mengisi sesuatu yang kosong, melainkan proses "mengingat kembali" (anamnesis) apa yang sebenarnya sudah diketahui oleh jiwa.

  • Implikasi: Tujuan pendidikan adalah untuk memancing dan membimbing siswa agar ia bisa "mengingat" kebenaran-kebenaran tersebut melalui metode dialektika (tanya jawab kritis). Guru bukanlah pengisi, melainkan seorang "bidan" (seperti metafora untuk gurunya, Socrates) yang membantu jiwa siswa "melahirkan" pengetahuannya sendiri.

Jean-Jacques Rousseau dan Konsep "Manusia Mulia" (Noble Savage)

Dalam novel filosofisnya yang berpengaruh, "Emile, or On Education" (1762), Rousseau mengajukan gagasan radikal. Ia percaya bahwa manusia secara alami terlahir baik. Anak-anak memiliki rasa ingin tahu, empati, dan potensi yang luar biasa. Justru masyarakatlah yang merusak dan mengkorupsi kebaikan alami ini.

  • Implikasi: Pendidikan seharusnya tidak bertujuan untuk "membentuk" anak sesuai keinginan masyarakat, melainkan untuk melindungi dan memelihara perkembangan alami mereka. Guru harus menjadi seorang fasilitator yang menciptakan lingkungan belajar yang kaya dan alami, membiarkan anak belajar dari alam dan pengalamannya sendiri, serta melindunginya dari pengaruh buruk masyarakat yang artifisial.

Pandangan ini sangat menghargai keunikan dan otonomi individu. Ia menjadi dasar bagi banyak pendekatan pendidikan progresif dan berpusat pada siswa. Namun, jika diterapkan secara ekstrem, pandangan ini bisa berisiko mengabaikan peran penting transmisi budaya, pengetahuan dasar, dan disiplin yang juga diperlukan agar siswa bisa berfungsi dalam masyarakat. Ia juga bisa menjadi terlalu romantis dan meremehkan potensi sifat-sifat negatif yang juga ada dalam diri manusia.

Kesimpulan

Debat ontologis antara "kertas kosong" dan "pembawa potensi" bukanlah sekadar perdebatan filosofis kuno. Ini adalah jantung dari perdebatan "Nature vs. Nurture" (Bawaan vs. Asuhan) yang terus membentuk kebijakan pendidikan kita hari ini.

  • Sekolah yang sangat menekankan pada ujian standar, kurikulum nasional yang kaku, dan metode menghafal, secara implisit menganut pandangan John Locke.
  • Sementara itu, sekolah yang mempromosikan pembelajaran berbasis proyek, kurikulum yang fleksibel, dan menghargai minat unik setiap siswa, secara implisit berakar pada pemikiran Rousseau dan Dewey.

Kenyataannya, mungkin kedua pandangan ini tidak sepenuhnya benar atau salah. Manusia mungkin terlahir dengan seperangkat potensi dan kecenderungan bawaan (bakat, temperamen), tetapi bagaimana potensi itu berkembang sepenuhnya bergantung pada "tulisan" dari pengalaman dan pendidikan yang ia terima.

Tugas kita sebagai pendidik dan warga negara yang kritis adalah untuk terus mempertanyakan: Asumsi ontologis apa yang mendasari sistem pendidikan kita saat ini? Dan apakah asumsi tersebut benar-benar melayani tujuan untuk menciptakan manusia yang utuh, merdeka, dan bijaksana?

Daftar Pustaka

  • Locke, John. (1689). An Essay Concerning Human Understanding.
  • Plato. Meno.
  • Rousseau, Jean-Jacques. (1762). Emile, or On Education.
  • Pinker, Steven. (2002). The Blank Slate: The Modern Denial of Human Nature



Komentar