Bukan Malas, Itu 'Paralisis': Membongkar Alasan Psikologis Kenapa Kita Suka Menunda (Procrastination)
Oleh: Dedi Sumardi
![]() |
| Sumber foto: YouTube SATU PERSEN https://www.youtube.com/watch?v=NOV_sXhnN_k |
Pernahkah Anda berada di situasi ini: tenggat waktu (deadline) sudah di depan mata, Anda tahu Anda harus mengerjakan tugas itu, Anda ingin mengerjakannya, tapi tubuh Anda seakan terpaku? Anda justru berakhir membersihkan kamar, menonton serial, atau sekadar menatap layar kosong selama berjam-jam.
Lalu, Anda menyalahkan diri sendiri: "Kenapa aku malas sekali?"
Berhenti di situ. Ini adalah kebohongan terbesar yang kita ceritakan pada diri kita sendiri. Apa yang Anda alami bukan kemalasan. Itu adalah paralisis - sebuah kelumpuhan sementara yang disebabkan oleh pertarungan sengit di dalam pikiran Anda.
Kemalasan adalah sikap tidak mau melakukan apa-apa dan merasa nyaman dengan itu. Prokrastinasi (menunda-nunda) adalah ingin melakukan sesuatu, tapi tidak bisa memulai, dan Anda merasa tersiksa karenanya.
Seperti yang dikatakan novelis Steven Pressfield, kita tidak sedang melawan kemalasan biasa. Kita sedang melawan sebuah kekuatan yang ia sebut "Resistensi."
"Prokrastinasi adalah manifestasi paling umum dari Resistensi, karena ia adalah yang paling mudah untuk dirasionalisasi." — Steven Pressfield, The War of Art
Mari kita bedah tiga alasan psikologis utama di balik kelumpuhan ini.
1. Ini Bukan Perang Produktivitas, Ini Perang Emosi
Kita salah mengira prokrastinasi sebagai masalah manajemen waktu; kita membeli planner dan mengunduh aplikasi to-do-list. Tapi ini tidak pernah berhasil, karena kita salah mendiagnosis penyakitnya.
Prokrastinasi bukan masalah manajemen waktu. Ini masalah manajemen emosi.
Analisis Kritis: Anda menunda-nunda bukan karena tugasnya sulit, tapi karena tugas itu membuat Anda merasa tidak nyaman.
- Rasa Takut Gagal: Ini adalah penyebab terbesar. Otak Anda berpikir, "Bagaimana jika hasil akhirnya jelek? Bagaimana jika orang menertawakanku?" Untuk melindungi Anda dari potensi rasa sakit karena gagal, otak Anda memutuskan untuk tidak memulai sama sekali. "Tidak ada karya, tidak ada kritik."
- Perfeksionisme: Ini adalah sepupu dari rasa takut gagal. Standar Anda terlalu tinggi. Anda ingin membuat karya yang "sempurna". Karena "sempurna" itu mustahil, tugas itu terasa terlalu berat, dan Anda akhirnya lumpuh.
- Kecemasan (Anxiety): Tugas itu terasa terlalu besar dan rumit, membuat Anda kewalahan (overwhelmed). Kecemasan ini membuat otak Anda "hang" dan mencari jalan keluar darurat.
2. Pembajakan Dopamin: Otak Anda Mencari "Hadiah Murah"
Otak kita tidak dirancang untuk kebahagiaan jangka panjang. Ia dirancang untuk keberlangsungan hidup jangka pendek. Ia beroperasi dengan sistem "hadiah" yang disebut Dopamin.
Analisis Kritis: Otak Anda adalah "mesin pencari hadiah". Ia melihat dua pilihan:
- Tugas A (Skripsi/Laporan): Hadiahnya besar (lulus/gaji), tapi butuh waktu berbulan-bulan. Hadiahnya jauh.
- Tugas B (Cek Media Sosial/Nonton YouTube): Hadiahnya kecil, tapi Anda mendapatkannya detik ini juga (dopamin instan).
Otak Anda, yang didesain untuk efisiensi, akan selalu memilih "Tugas B".
Saat Anda menunda, Anda tidak sedang malas. Anda sedang "dibajak" secara kimiawi oleh sistem dopamin Anda sendiri. Anda menukar kepuasan jangka panjang yang besar dengan serangkaian kepuasan instan yang murah. Ini adalah sebuah kecanduan. Anda kecanduan pada rasa lega sesaat karena tidak harus menghadapi perasaan tidak nyaman dari "Tugas A".
3. Aspek Filosofis: Sinyal Marabahaya Eksistensial
Terkadang, prokrastinasi bukanlah sekadar masalah psikologis. Ia adalah sebuah sinyal filosofis.
Analisis Kritis: Saat Anda terus-menerus menunda sesuatu, mungkin itu adalah cara jiwa Anda berbisik (atau berteriak) bahwa Anda sedang mengerjakan hal yang salah.
- Jika Anda seorang seniman alami tetapi Anda memaksakan diri bekerja di bidang akuntansi, Anda akan menunda-nunda pekerjaan Anda. Mengapa? Karena pekerjaan itu terasa tidak otentik.
- Prokrastinasi bisa jadi adalah sinyal marabahaya dari "diri sejati" Anda yang menolak melakukan pekerjaan yang tidak memiliki makna bagi Anda.
Dalam kasus ini, prokrastinasi bukanlah musuh. Ia adalah seorang utusan yang membawa pesan penting. Alih-alih membencinya, kita harus bertanya: "Apa yang sedang coba kamu sampaikan padaku?"
Kesimpulan: Berdamai dengan Kelumpuhan
Jadi, berhentilah menghina diri Anda dengan kata "malas". Anda tidak malas. Anda mungkin hanya ketakutan, kecanduan dopamin instan, atau tidak terhubung secara spiritual dengan pekerjaan Anda.
Solusinya bukanlah bekerja lebih keras. Solusinya adalah menjadi lebih baik pada diri sendiri.
- Pecahkan tugasnya. Buat "hadiahnya" lebih dekat. Gunakan "Aturan Dua Menit" (jika sesuatu bisa dilakukan di bawah dua menit, lakukan sekarang).
- Terima ketidaksempurnaan. Izinkan diri Anda untuk membuat draf yang buruk.
- Dengarkan pesannya. Tanyakan pada diri Anda: Apakah saya takut, atau saya bosan? Jika Anda takut, beranikan diri. Jika Anda bosan, mungkin ini saatnya mencari tugas baru.
Referensi untuk Pendalaman:
- Fiore, Neil. (2007). The Now Habit: A Strategic Program for Overcoming Procrastination and Enjoying Guilt-Free Play. Buku klasik yang pertama kali mempopulerkan ide bahwa prokrastinasi disebabkan oleh rasa takut akan kegagalan dan kecemasan, bukan kemalasan.
- Pressfield, Steven. (2002). The War of Art: Break Through the Blocks and Win Your Inner Creative Battles. Buku filosofis yang luar biasa. Ia mempersonifikasikan prokrastinasi sebagai "Resistance" (Resistensi), sebuah kekuatan universal yang bertujuan menghalangi kita mencapai potensi tertinggi kita.
- Clear, James. (2018). Atomic Habits. Meskipun bukan spesifik tentang prokrastinasi, buku ini memberikan penjelasan terbaik tentang bagaimana sistem dopamin dan pembentukan kebiasaan bekerja, serta cara "meretas" otak Anda untuk mulai melakukan sesuatu.
.jpg)
.jpg)

Komentar
Posting Komentar