Desakralisasi Pengetahuan: Mengapa Sains Modern Gagal Menjawab Dahaga Eksistensial Manusia?
Oleh: Dedi Sumardi

Sumber Gambar: https://www.thecollector.com/galileo-modern-science/

Abstrak
Di era informasi, pengetahuan sering kali direduksi menjadi sekadar data dan algoritma. Fenomena ini, yang disebut Seyyed Hossein Nasr sebagai "Desakralisasi Pengetahuan," telah memutus hubungan antara intelektualitas manusia dengan dimensi ilahi. Artikel ini membedah mengapa kemajuan sains materialistik justru meninggalkan lubang menganga dalam batin manusia dan bagaimana kembalinya "Yang Sakral" dalam ilmu pengetahuan menjadi satu-satunya jalan keluar dari krisis spiritualitas global.
Ketika Ilmu Pengetahuan Kehilangan "Ruh"nya
Dahulu, mencari ilmu adalah ibadah. Pengetahuan dianggap sebagai tangga untuk memahami Sang Pencipta (Scientia Sacra). Namun, sejak era Renaisans dan Pencerahan, dunia mengalami pergeseran paradigma yang radikal.
Ilmu pengetahuan mengalami Desakralisasi; sebuah proses di mana pengetahuan dipisahkan dari nilai-nilai spiritual dan transenden. Alam semesta yang dulunya dipandang sebagai "Ayat" atau tanda kebesaran Tuhan, kini hanya dipandang sebagai mesin raksasa yang tidak bernyawa, sekadar objek untuk dikuasai dan dieksploitasi demi keuntungan material.
Paradoks Manusia Promethean: Pintar tapi Hampa
Seyyed Hossein Nasr memperkenalkan istilah "Manusia Promethean" sosok yang merasa telah berhasil mencuri "api" pengetahuan dari langit dan merasa mampu mengatur dunia tanpa Tuhan. Kita adalah representasi dari manusia itu. Kita bisa memetakan DNA, meluncurkan roket ke Mars, dan menciptakan AI yang sangat cerdas.
Namun, di tengah semua kejayaan itu, manusia modern menderita "Kemiskinan Eksistensial." Sains bisa menjelaskan bagaimana sebuah benda bekerja, tapi sains modern gagap saat ditanya untuk apa kita hidup. Kita punya ribuan buku tentang biologi, tapi kehilangan satu bab terpenting: makna menjadi manusia.
Kegagalan Saintisme menjawab Dahaga Batin
Mengapa angka depresi dan kecemasan justru meningkat di negara-negara dengan kemajuan teknologi tertinggi? Jawabannya sederhana: Sains modern tidak memiliki alat untuk mengukur jiwa.
Ketika sains berubah menjadi Saintisme (keyakinan bahwa hanya ilmu empiris yang benar), kita membuang intuisi spiritual dan wahyu ke tempat sampah sejarah. Hasilnya? Kita hidup di dunia yang sangat efisien secara teknis, namun sangat dingin secara spiritual. Kita merasa terasing (alienated) di tengah keramaian, karena "Pusat" (Tuhan) telah dibuang dari ruang diskusi ilmiah kita.
Krisis Ekologi: Cermin Kerusakan Batin
Nasr mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan yang kita hadapi hari ini hanyalah dampak samping dari kerusakan batin. Karena kita tidak lagi melihat alam sebagai sesuatu yang sakral, kita tidak merasa berdosa saat menghancurkannya. Manusia yang sudah "mati" secara spiritual di dalam, akan menciptakan kematian bagi alam di luar.
Krisis iklim bukanlah sekadar masalah emisi karbon, melainkan masalah teologi dan filosofi. Tanpa mengembalikan dimensi sakral pada cara kita memandang alam, teknologi hijau sehebat apa pun hanya akan menjadi plester sementara bagi luka yang sangat dalam.
Penutup: Mencari Jalan Pulang ke "Yang Sakral"
Membangkitkan kembali spiritualitas bukan berarti membakar buku sains dan kembali ke zaman batu. Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk menyucikan kembali ilmu pengetahuan. Kita butuh sains yang memiliki "kompas moral" dan filosofi yang memiliki "akar langit."
Kita tidak bisa terus berlari kencang tanpa tahu ke mana arah pulang. Sudah saatnya kita menoleh kembali pada Tradisi, pada kearifan perenial yang mengajarkan bahwa pengetahuan yang sejati adalah pengetahuan yang mendekatkan kita pada kebenaran universal, bukan yang menjauhkan kita darinya.
Referensi Utama:
- Nasr, S. H. (1981). Knowledge and the Sacred.
- Nasr, S. H. (1968). Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man.
- Jurnal Filsafat UGM: Sains Modern dan Krisis Spiritualitas Manusia Modern.
.jpg)

Komentar
Posting Komentar